Sejarah Warga

Kami bersepakat di kali ini untuk mengangkat subjek mengenai sejarah warga ke dalam bentuk pameran. Salah satu pertimbangan adalah karena sejarah warga sering kita temui masih menjadi sebuah catatan kaki, padahal perihal seperti jalinan relasi kuasa atau kehadiran negara justru diperkuat ketika wacananya direproduksi pada kehidupan keseharian warga. Dalam arti lain narasi kecil tersebut dapat menjadi tumpuan dasar sebagai bahan analisa sesuatu yang besar dan agung. Kami pun beranggapan bahwa sejarah sebagai sebuah proses pemahaman yang dilambangkan dalam simbol kebahasaan atau naratif dapat berubah dari waktu ke waktu, tempat ke tempat dan dari satu orang ke orang lain. Meskipun dalam asumsi konvensionalnya banyak orang menganggap sejarah dapat menghadirkan kebenaran mutlak yang tentu saja bermasalah pada tataran epistimologi. Sejarah tidak memberikan kita kebenaran absolut namun dapat membuat kita mengerti lebih dalam proses-proses sosial yang membentuk ‘kekinian’.

Pameran “People’s History of Gombong” yang merupakan bagian dari program budaya Roemah Martha Tilaar ini menampilkan foto-foto lama yang dikumpulkan dari warga melalui proses riset lantas dikurasi oleh tim kuratorial. Foto-foto yang terpilih untuk ditampikan dalam pameran ini dirasa dapat merepresentasikan wajah warga dalam periode tertentu. Foto-foto tersebut dibagi ke dalam panel-panel berdasarkan kelompok identitas tetapi bukan untuk menjadi suatu penanda rasial namun demi memudahkan dalam menampilkan perbedaan budaya yang tampak secara visual sekaligus menawarkan sesuatu yang dapat kita gali tentang pengalaman atau pengetahuan non verbal. Penggunaan foto telah banyak dilakukan untuk meneliti sejarah, foto pada saat bersamaan dapat berperan ganda tidak hanya menjadi sebuah bukti sejarah namun juga membawa sebuah imajinasi yang jelas tentang masa lalu. Senada dengan apa yang Francis Haskell sebut sebagai “the impact of the image on the historical imagination”.

Pameran ini dimaksudkan bukan untuk memberikan keterangan lengkap tentang sejarah Gombong melainkan sebuah undangan untuk membangun narasi bersama tentang sejarah lokal warga untuk kemudian menjadi sesuatu yang dekat untuk ditaksir, dianalisis dan dipahami.

PS: Tulisan adalah catatan kuratorial untuk pameran People’s History of Gombong dan diterbitkan dalam katalog pameran dengan judul yang sama. Pameran diselenggarakan di Gombong 8 Agustus 2017 oleh Roemah Martha Tilaar. Saya dan Lotte van der Voort berkesempatan menjadi kuratornya.

Advertisements

DalamxLuar

Dalam Luar bisa diartikan sebagai pilihan ruang pandang tentang bagaimana kita menghayati sesuatu, ruang pandang ini akan mempengaruhi estimasi pilihan konteks dan referensi-dalam derajat tertentu juga keberpihakan-sekaligus vital dalam merespon realitas di lapangan. Menyoal kampung kota misalnya, begitu banyak hal yang tidak akan kita mengerti dalam arus kehidupan dan jaringan pertukarannya jika kita hanya memiliki sedikit waktu dan memandangnya dengan berjarak. Kampung kota hanya akan dimengerti bentuk estetikanya ketika kita berani menyisakan cukup waktu berada di dalam untuk menyelami keindahannya yang tidak preskriptif yang akan selalu membuka diri pada ragam interpretasi dan akhirnya membuat kita terpaksa terlibat dalam menjalin pemaknaan.

Konsep Dalam Luar sendiri lahir dari refleksi setahun lebih bergiat dibawah platform program Melek Bogor. Kegiatan yang awalnya diniatkan untuk memetakan aset pusaka di Kota Bogor akhirnya bergulir dengan begitu dinamis. Hal ini seakan menjadi sesuatu yang tak terelakkan berhubung sejak hari pertama kegiatan Melek Bogor resmi dimulai pada Desember 2015, didominasi oleh anak-anak muda usia awal dan tengah 20an. Mereka semua adalah warga kota yang terjaring dari proses pendekatan yang dilakukan oleh Kampoeng Bogor dan disatukan oleh ketertarikan untuk mencoba menemu kenali tempat dimana mereka tinggal. Dengan berbekal minat dan kemampuan yang berbeda-beda (yang kelak menjamin kekayaan khasanah dan perspektif) mereka turut membentuk platform program tersebut sekaligus  menjadi motor penggeraknya. Ketika teman-teman Melek Bogor memutuskan untuk mulai melakukan eksplorasi tentang kampung kota dan segala dinamikanya dengan mengambil kawasan Pulo Geulis sebagai studi kasus pun terjadi begitu saja seturut obrolan dan kemampuan mengamati yang berkembang dengan begitu organis. Melek Bogor juga menjadi semacam laboratorium, tempat dimana semua orang yang terlibat mengumpulkan ide lalu coba ditantang kembali, tempat untuk melatih menyusun pertanyaan dengan baik alih-alih mengejar jawaban.

Dalam proses interaksi antara warga kampung Pulo Geulis dan teman-teman yang bernaung di platform program Melek Bogor dengan intensitas yang cukup tinggi di bulan-bulan terakhir ini menarik untuk dicermati bahwa beberapa karya yang dihasilkan adalah karya foto dan videografi. Tentu saja alasannya bukan semata karena terbatasnya kemampuan teknis teman-teman tapi juga baik sadar maupun tidak merupakan pilihan estetis dalam membentuk wajah dari permasalahan yang digeluti. Foto dan video adalah medium dimana seni itu diciptakan. Dalam memenuhi fungsinya sebagai alat dokumentasi kedua hal tersebut dapat menggambarkan dengan baik proses sosial dan interaksi yang terjadi di Pulo Geulis, sedangkan dalam menjadi karya seni masing-masing dapat berbicara melalui metafora visual.

Mendalami lika-liku keseharian di kampung kota dan hal-hal yang kait kelindan membutuhkan laku yang tidak biasa. Ada waktu dan energi yang tercurah habis, semangat yang turun naik, individu-individu yang menyerah di tengah jalan. Namun semua seakan dapat terbayar lunas ketika laku tersebut berkontribusi dalam membangun keakraban antara sesama warga, membuka kemungkinan untuk mewacanakan kembali pemaknaan terhadap lingkungan tinggal dan merangkai pengalaman sosial. Citra dan cerita yang tersaji saat ini dalam bentuk terbitan, film maupun pameran adalah juga sebuah bentuk produksi pengetahuan bersama warga. Seluruh proses kegiatan dan karya tersebut telah menjadi penanda perjalanan imajinasi seluruh individu yang terlibat didalamnya.

Bogor, 12 Maret 2017

 

PS: Tulisan adalah kata pengantar di photographic zine DalamxLuar diterbitkan oleh Melek Bogor & Kampoeng Bogor