Membayangkan Museum

Perenungan dalam tulisan ini hadir ketika di awal bulan Februari lalu saya dihubungi oleh pihak Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) untuk menjadi pembicara dalam acara diskusi bulanan mereka. Pengalaman bertahun-tahun mengelola museum di area rural memang menarik untuk menjadi bahan paparan. Kebetulan sudah cukup lama juga saya mencoba berpikir dan berefleksi mengenai museum dan bagaimana perannya berjalan di tengah masyarakat, meskipun saya mendekati diskursus tersebut dengan begitu pragmatik berhubung latar belakang yang tidak datang dari disiplin ilmu museum. Di sini saya mencoba menuliskan beberapa hal hasil perenungan dan refleksi tersebut yang sebagiannya telah saya ungkapkan pula dalam presentasi di diskusi bulanan BPPI dengan judul yang hampir sama; “Membayangkan Museum, Merawat Ruang Bersama.”

Gejala-Gejala

Titik berangkat saya dimulai dari gejala kehadiran museum di Indonesia yang secara kuantitatif bertambah pesat tahun-tahun belakangan. Selain museum negeri yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi maupun tingkat kota, terdapat juga fenomena museum-museum yang dikelola oleh kampus atau perguruan tinggi. Seperti yang terdapat di Universitas Indonesia dengan Museum Anatomi, Universitas Gadjah Mada dengan Museum Biologi dan Museum Situs Majapahit, lalu Universitas Pembangunan Nasional dengan Museum Geoteknologi Mineralnya. Ini artinya museum di Indonesia mulai pula menawarkan ragam tema yang spesifik, tidak juga dapat kita indahkan kehadiran museum-museum seperti Museum Pustaka Tionghoa atau Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Keragaman tema yang ditawarkan memang tidak otomatis membuat museum menjadi tempat yang vibrant dan disambut penuh antusias oleh masyarakat. Fakta di lapangan masih menunjukkan tidak sedikit museum yang sepi pengunjung dengan keadaan hidup segan mati tak mau. Jika kita tarik pada skala nasion, masyarakat yang menempatkan konsumsi kultural sebagai salah satu prioritas memang kebanyakan baru terjadi hanya di kota-kota besar seperti Jakarta-kota yang paling banyak memiliki museum-atau Yogyakarta.

Beralih pada sisi yang lain. Di banyak kesempatan bertemu dan bertukar pikiran dengan pemilik maupun pengurus museum di Indonesia, baik dalam konferensi, seminar maupun pertemuan-pertemuan informal, saya menilik lebih dekat bagaimana perspektif dari dalam museum itu sendiri menanggapi tantangan yang selama ini mereka hadapi dalam mengelola museum. Setidaknya ada tiga hal yang selalu menjadi keluh kesah yang sekian kali berulang, yaitu; Pertama, persoalan museum masih berporos pada soal pendaanaan sehingga mereka selalu menuntut perhatian lebih dari pemerintah. Museum negeri biasanya menuntut pendanaan yang lebih besar sedangkan museum swasta berharap akan pengaturan pajak bagi museum. Kedua, museum masih selalu dianggap sebagai sebuah institusi pendidikan dan kebudayaan yang netral dan bebas nilai, lepas dari beban ideologis dan masih jauh dari kajian kurasi dan representasi sebagai sesuatu yang politis, padahal realitanya kita bisa melihat misalnya bagaimana begitu paranoianya museum-museum yang dikelola oleh militer Indonesia terhadap para peneliti asing baru-baru ini. Lalu ketiga, tidak sedikit pemilik dan pengelola museum terutama yang berada di kota dan daerah periferi yang merasa bahwa masyarakat hari ini tidak peduli pada keberadaan museum, fenomena ini selalu dikaitkan dengan globalisasi dan imperialisme budaya.

Dalam merespon apa-apa yang terungkap, saya melihat ada persoalan laten yang mengendap dalam soal museum terutama di Indonesia yaitu kemiskinan imajinasi dalam membayangkan museum. Hal ini yang saya rasa berpengaruh besar pada betapa sulitnya museum-museum di Indonesia untuk dapat memproyeksikan relevansi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi lanskap wacana pengetahuan di dunia yang berubah dengan cepat dan memaksa kita untuk turut selalu mengejar ketertinggalan juga membawa permasalahannya sendiri.

Tindakan ‘Membayangkan’

True creativity often starts where language ends. – Arthur Koestler

Tindakan membayangkan adalah kemampuan kreatif untuk membentuk imaji, ide, dan sensasi dalam pikiran. Tindakan ini dapat membantu implementasi pengetahuan untuk memecahkan masalah. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan kreatif dalam ‘membayangkan’ misalnya metode yang disebut pencampuran konseptual. Metode ini merupakan penyempurnaan dari teori bisociation yang pertama kali diperkenalkan oleh Arthur Koestler. Pencampuran konseptual adalah usaha untuk memadu padankan dua referensi konsep yang berbeda sehingga menghasilkan formulasi yang baru.

Untuk memberikan sekedar ilustrasi mengenai pencampuran konseptual dalam konteks museum kita bisa mencoba untuk memadukan antara konsep komunitas dengan praksis museum. Ada beberapa isu yang menjadi interseksi antara komunitas dan museum yaitu identitas, representasi, dan pertanggungjawaban sosial. Komunitas bisa menjadi salah satu elemen dalam membentuk ulang museum. Begitu pun sebaliknya, museum memiliki tempat dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas untuk memperkuat dan memanggil kembali rasa kebersamaan. Museum harus membuka dan mengakrabkan diri dengan persoalan-persoalan kontemporer pada komunitas lokal tempatan, dalam tahap ini museum membangun ikatan yang lebih dalam dan tidak ada lagi orang-orang yang hanya menjadi sekedar pengunjung. Pada ranah praktik, pendekatan inilah yang digunakan oleh District Six Museum di Cape Town, Afrika Selatan. Dimana museum menjadi tempat bagi peningkatan kapasitas komunitas lokal yang sebelumnya di luluh lantakan oleh politik apartheid.

Selain perpaduan dengan konsep komunitas, museum juga dapat mulai bereksperimen dengan model bisnis untuk mencampurkan prinsip-prinsip komersial ke dalam pengelolaan museum. Ini tentunya menjadi jawaban bagi banyak museum yang selalu mengalami masalah soal pendanaan. Bayangkan jika museum mengurangi koleksi objek tiga dimensi dan beralih pada pameran-pameran temporer sehingga mampu menyisakan tempat yang dapat dimanfaatkan bagi penggunaan komersial ke depan.

Selain metode pencampuran konseptual terdapat sejumlah metode lain yang dapat memacu tindakan kreatif ‘membayangkan’ seperti convergent and divergent thinking, inkubasi atau honing theory untuk menyebut beberapa contoh.

Dalam dunia yang semakin kompleks, kita wajib rasanya melihat persoalan museum sebagai sesuatu yang tidak terpisah dari begitu banyak persoalan lainnya, semua saling berkait kelindan dan tumpang tindih sehingga memerlukan pendekatan dan perspektif baru dalam membangun strategi yang solutif. Tindakan membayangkan menjadi salah satu cara bagi kita untuk membangun alternatif museum yang ‘lain’ yang dapat dengan tegas menggambarkan relevansi dan kemanfaatannya bagi masyarakat.

Terakhir, mengingat begitu sedikitnya referensi kita perihal kajian museum, ke depan saya harap akan ada setidaknya ruang-ruang baru bagi perbincangan menyangkut museum dan menyoal kebudayaan kita. Semoga.

Maret 2018.

Advertisements

Catatan Tutup Tahun

Desember menuju ke penghujung. Tahun siap berganti. Entah mengapa kami tergerak untuk mencatat apa-apa yang telah dicapai di tahun ini pun sebagai pengingat hutang yang mesti dilunasi di tahun yang akan datang, layaknya banyak orang di belahan dunia yang menggunakan momen-momen ini untuk berefleksi.

Tahun 2017, program Melek Bogor yang telah dimulai sejak pertengahan 2015 resmi selesai. Alih-alih berakhir, program ini justru menginspirasi hal-hal dan kegiatan baru yang ingin diwujudkan selanjutnya. Sebagai kegiatan pamungkas dari program Melek Bogor, di bulan April lalu kami merayakannya dengan menggelar pesta kampung kecil-kecilan di Pulo Geulis, setelah hampir setahun bergiat di sana. Pesta kampung yang kami namakan DalamxLuar Pulo Geulis itu disambut antusias oleh warga. Pak RW memastikan setiap RT di wilayahnya mengirimkan perwakilan untuk unjuk kebolehan pada acara tersebut. Bahkan saat-saat persiapan di hari penyelenggaraan, kami disuguhi makan siang yang cukup mewah oleh warga, belum lagi sumbangan bandrek dari Pak Bram untuk menghangatkan diri di malamnya. Pada kesempatan itu kami merilis photographic booklet dengan judul yang sama yaitu DalamxLuar juga film dokumenter Simbiosis. Harapannya kedua produk akhir tersebut dapat menjadi jendela dengan perspektif baru untuk memandang kehidupan keseharian di kampung kota.

Setelah riuh rendah keceriaan pesta kampung DalamxLuar Pulo Geulis usai, kami mengevaluasi keseluruhan jalannya program Melek Bogor, kesempatan itu juga digunakan untuk merestrukturisasi program reguler. Hasilnya, terwujudlah dua platform program baru berbentuk website, Cerita Kota (ceritakota.kampoengbogor.org) dan Kerja Gambar (kerjagambar.kampoengbogor.org). Cerita Kota akan menjadi ruang diskursus dan kolaboratif bagi warga yang ingin berbagi tulisan tentang kota, sedangkan Kerja Gambar dimaksudkan sebagai media display untuk riset-riset kami yang menggunakan media foto dan video dalam representasi isu. Kedua platform program tersebut dirasa akan mendukung kerja-kerja lainnya di tahun depan.

Akhir Oktober kami memperkenalkan ke publik riset terbaru yang diberi judul Angkot! Kiri! riset yang rencananya akan berjalan selama setahun ke depan itu akan berangkat untuk melihat realitas di balik ungkapan “kota sejuta angkot”. Dengan pendekatan multidisiplin, riset ini ditargetkan untuk menghasilkan publikasi dalam bentuk buku dan film dokumenter serupa dengan apa yang telah dilakukan di Pulo Geulis.

Berkait perihal yang menarik untuk dicermati di tahun 2018 seturut perhatian, kebetulan sesuai dengan isu yang kurang lebih kami singgung di tahun ini yaitu transportasi dan kampung kota. Kedua isu tersebut beririsan dengan kegiatan banyak kawan-kawan organisasi lain juga Pemerintah Kota. Soal kampung kota dapat kita lihat bagaimana mulai semaraknya kegiatan di Katulampa dan Pulo Geulis misalnya, kedepan program-program mengenai kampung kota akan terus diuji ketahanan dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat lokal tempatan. Dalam isu transportasi rencana Pemerintah Kota tentang rerouting dan konversi angkot menjadi bis patut ditunggu berhasil atau tidaknya untuk diimplementasikan.

Terakhir, tampaknya hari ini perlu mulai mempertimbangkan untuk terus mendekati praktik seni dalam mengemas persoalan-persoalan budaya perkotaan, selain karena seni menjadikan persoalan lebih lentur, ia juga bisa menjadi tampilan yang segar untuk dikonsumsi oleh warga. Mungkin pendidikan soal seni ini penting juga untuk diberikan kepada para kontestan yang akan maju memperebutkan kursi walikota dan wakil tahun depan-yang kampanyenya mulai menyesaki ruang kota dengan sampah-sampah visual-agar perihal etis dan estetis dapat menjadi perhatian mereka.

Selamat tahun baru, selamat memasuki tahun politik 2018!

PS: Catatan reflektif akhir tahun untuk Kampoeng Bogor 2017. Dimuat di kampoengbogor.org.

Sejarah Warga

Kami bersepakat di kali ini untuk mengangkat subjek mengenai sejarah warga ke dalam bentuk pameran. Salah satu pertimbangan adalah karena sejarah warga sering kita temui masih menjadi sebuah catatan kaki, padahal perihal seperti jalinan relasi kuasa atau kehadiran negara justru diperkuat ketika wacananya direproduksi pada kehidupan keseharian warga. Dalam arti lain narasi kecil tersebut dapat menjadi tumpuan dasar sebagai bahan analisa sesuatu yang besar dan agung. Kami pun beranggapan bahwa sejarah sebagai sebuah proses pemahaman yang dilambangkan dalam simbol kebahasaan atau naratif dapat berubah dari waktu ke waktu, tempat ke tempat dan dari satu orang ke orang lain. Meskipun dalam asumsi konvensionalnya banyak orang menganggap sejarah dapat menghadirkan kebenaran mutlak yang tentu saja bermasalah pada tataran epistimologi. Sejarah tidak memberikan kita kebenaran absolut namun dapat membuat kita mengerti lebih dalam proses-proses sosial yang membentuk ‘kekinian’.

Pameran “People’s History of Gombong” yang merupakan bagian dari program budaya Roemah Martha Tilaar ini menampilkan foto-foto lama yang dikumpulkan dari warga melalui proses riset lantas dikurasi oleh tim kuratorial. Foto-foto yang terpilih untuk ditampikan dalam pameran ini dirasa dapat merepresentasikan wajah warga dalam periode tertentu. Foto-foto tersebut dibagi ke dalam panel-panel berdasarkan kelompok identitas tetapi bukan untuk menjadi suatu penanda rasial namun demi memudahkan dalam menampilkan perbedaan budaya yang tampak secara visual sekaligus menawarkan sesuatu yang dapat kita gali tentang pengalaman atau pengetahuan non verbal. Penggunaan foto telah banyak dilakukan untuk meneliti sejarah, foto pada saat bersamaan dapat berperan ganda tidak hanya menjadi sebuah bukti sejarah namun juga membawa sebuah imajinasi yang jelas tentang masa lalu. Senada dengan apa yang Francis Haskell sebut sebagai “the impact of the image on the historical imagination”.

Pameran ini dimaksudkan bukan untuk memberikan keterangan lengkap tentang sejarah Gombong melainkan sebuah undangan untuk membangun narasi bersama tentang sejarah lokal warga untuk kemudian menjadi sesuatu yang dekat untuk ditaksir, dianalisis dan dipahami.

PS: Tulisan adalah catatan kuratorial untuk pameran People’s History of Gombong dan diterbitkan dalam katalog pameran dengan judul yang sama. Pameran diselenggarakan di Gombong 8 Agustus 2017 oleh Roemah Martha Tilaar. Saya dan Lotte van der Voort berkesempatan menjadi kuratornya.

DalamxLuar

Dalam Luar bisa diartikan sebagai pilihan ruang pandang tentang bagaimana kita menghayati sesuatu, ruang pandang ini akan mempengaruhi estimasi pilihan konteks dan referensi-dalam derajat tertentu juga keberpihakan-sekaligus vital dalam merespon realitas di lapangan. Menyoal kampung kota misalnya, begitu banyak hal yang tidak akan kita mengerti dalam arus kehidupan dan jaringan pertukarannya jika kita hanya memiliki sedikit waktu dan memandangnya dengan berjarak. Kampung kota hanya akan dimengerti bentuk estetikanya ketika kita berani menyisakan cukup waktu berada di dalam untuk menyelami keindahannya yang tidak preskriptif yang akan selalu membuka diri pada ragam interpretasi dan akhirnya membuat kita terpaksa terlibat dalam menjalin pemaknaan.

Konsep Dalam Luar sendiri lahir dari refleksi setahun lebih bergiat dibawah platform program Melek Bogor. Kegiatan yang awalnya diniatkan untuk memetakan aset pusaka di Kota Bogor akhirnya bergulir dengan begitu dinamis. Hal ini seakan menjadi sesuatu yang tak terelakkan berhubung sejak hari pertama kegiatan Melek Bogor resmi dimulai pada Desember 2015, didominasi oleh anak-anak muda usia awal dan tengah 20an. Mereka semua adalah warga kota yang terjaring dari proses pendekatan yang dilakukan oleh Kampoeng Bogor dan disatukan oleh ketertarikan untuk mencoba menemu kenali tempat dimana mereka tinggal. Dengan berbekal minat dan kemampuan yang berbeda-beda (yang kelak menjamin kekayaan khasanah dan perspektif) mereka turut membentuk platform program tersebut sekaligus  menjadi motor penggeraknya. Ketika teman-teman Melek Bogor memutuskan untuk mulai melakukan eksplorasi tentang kampung kota dan segala dinamikanya dengan mengambil kawasan Pulo Geulis sebagai studi kasus pun terjadi begitu saja seturut obrolan dan kemampuan mengamati yang berkembang dengan begitu organis. Melek Bogor juga menjadi semacam laboratorium, tempat dimana semua orang yang terlibat mengumpulkan ide lalu coba ditantang kembali, tempat untuk melatih menyusun pertanyaan dengan baik alih-alih mengejar jawaban.

Dalam proses interaksi antara warga kampung Pulo Geulis dan teman-teman yang bernaung di platform program Melek Bogor dengan intensitas yang cukup tinggi di bulan-bulan terakhir ini menarik untuk dicermati bahwa beberapa karya yang dihasilkan adalah karya foto dan videografi. Tentu saja alasannya bukan semata karena terbatasnya kemampuan teknis teman-teman tapi juga baik sadar maupun tidak merupakan pilihan estetis dalam membentuk wajah dari permasalahan yang digeluti. Foto dan video adalah medium dimana seni itu diciptakan. Dalam memenuhi fungsinya sebagai alat dokumentasi kedua hal tersebut dapat menggambarkan dengan baik proses sosial dan interaksi yang terjadi di Pulo Geulis, sedangkan dalam menjadi karya seni masing-masing dapat berbicara melalui metafora visual.

Mendalami lika-liku keseharian di kampung kota dan hal-hal yang kait kelindan membutuhkan laku yang tidak biasa. Ada waktu dan energi yang tercurah habis, semangat yang turun naik, individu-individu yang menyerah di tengah jalan. Namun semua seakan dapat terbayar lunas ketika laku tersebut berkontribusi dalam membangun keakraban antara sesama warga, membuka kemungkinan untuk mewacanakan kembali pemaknaan terhadap lingkungan tinggal dan merangkai pengalaman sosial. Citra dan cerita yang tersaji saat ini dalam bentuk terbitan, film maupun pameran adalah juga sebuah bentuk produksi pengetahuan bersama warga. Seluruh proses kegiatan dan karya tersebut telah menjadi penanda perjalanan imajinasi seluruh individu yang terlibat didalamnya.

Bogor, 12 Maret 2017

 

PS: Tulisan adalah kata pengantar di photographic zine DalamxLuar diterbitkan oleh Melek Bogor & Kampoeng Bogor