Surat Dari Teater Absurd Bernama Kehidupan

Pukul 2 pagi.

Kenangan tentangmu mampir.

Saya teringat ini:

Suatu hari kamu menghampiri saya dengan senyum mengembang seperti biasa. Saya menyampaikan bahwa saya telah selesai membaca buku Metamorfosisnya Kafka yang baru saya beli dan ingin kamu pinjam. Dengan wajah heran kamu bertanya bagaimana mungkin saya menyelesaikan membaca buku yang tebal itu dalam waktu kurang dari seminggu, lantas kamu mengatakan kalau saya hanya kurang merenungi setiap buku yang saya baca. Saya yang keberatan dengan penilaianmu saat itu, seperti biasa tersulut untuk berargumen balik dengan hasil kita habiskan hampir setengah waktu pertemuan dengan debat tak tentu arah.

Ah, begitulah kamu bahkan bisa memulai kemelut dari hal-hal yang remeh temeh. Sebagian orang terkadang melihat komentar-komentarmu begitu terasa sangat menghina tapi saya hanya sudah mengenalmu dengan terlalu baik.

Saya membayangkan ini:

Bagaimana kehidupanmu sekarang jika memang kehidupan setelah kematian itu ada, ingin bertanya bagaimana perasaanmu di detik-detik saat mengetahui hidupmu akan berakhir. Saya berharap sepenuh hati kamu tidak menghadapinya dengan takut dan putus asa. Penggemar teks-teks filsafat sepertimu harusnya menghadapi kematian seperti Socrates. Meskipun kamu jauh dari itu.

Kamu yang pernah berkata jika Tuhan memang ada dan kamu memiliki kesempatan bertemu denganNya, maka kalimat pertama yang ingin kamu sampaikan adalah: “Tuhan bukti-bukti yang kamu berikan tidak cukup!”

Kalimat yang entah kamu kutip darimana dan sampai sekarang saya juga jadi sering mengutipnya. Yang terkadang saya lakukan hanya untuk mengenangmu.

Orang-orang yang telah kita biarkan masuk dalam kehidupan kita akan selalu meninggalkan jejak yang tidak akan terhapus, benarkah itu atau hanya omong kosong sentimentil?

Bogor, hari pertama di bulan Maret, 2017

Advertisements