DalamxLuar

Dalam Luar bisa diartikan sebagai pilihan ruang pandang tentang bagaimana kita menghayati sesuatu, ruang pandang ini akan mempengaruhi estimasi pilihan konteks dan referensi-dalam derajat tertentu juga keberpihakan-sekaligus vital dalam merespon realitas di lapangan. Menyoal kampung kota misalnya, begitu banyak hal yang tidak akan kita mengerti dalam arus kehidupan dan jaringan pertukarannya jika kita hanya memiliki sedikit waktu dan memandangnya dengan berjarak. Kampung kota hanya akan dimengerti bentuk estetikanya ketika kita berani menyisakan cukup waktu berada di dalam untuk menyelami keindahannya yang tidak preskriptif yang akan selalu membuka diri pada ragam interpretasi dan akhirnya membuat kita terpaksa terlibat dalam menjalin pemaknaan.

Konsep Dalam Luar sendiri lahir dari refleksi setahun lebih bergiat dibawah platform program Melek Bogor. Kegiatan yang awalnya diniatkan untuk memetakan aset pusaka di Kota Bogor akhirnya bergulir dengan begitu dinamis. Hal ini seakan menjadi sesuatu yang tak terelakkan berhubung sejak hari pertama kegiatan Melek Bogor resmi dimulai pada Desember 2015, didominasi oleh anak-anak muda usia awal dan tengah 20an. Mereka semua adalah warga kota yang terjaring dari proses pendekatan yang dilakukan oleh Kampoeng Bogor dan disatukan oleh ketertarikan untuk mencoba menemu kenali tempat dimana mereka tinggal. Dengan berbekal minat dan kemampuan yang berbeda-beda (yang kelak menjamin kekayaan khasanah dan perspektif) mereka turut membentuk platform program tersebut sekaligus  menjadi motor penggeraknya. Ketika teman-teman Melek Bogor memutuskan untuk mulai melakukan eksplorasi tentang kampung kota dan segala dinamikanya dengan mengambil kawasan Pulo Geulis sebagai studi kasus pun terjadi begitu saja seturut obrolan dan kemampuan mengamati yang berkembang dengan begitu organis. Melek Bogor juga menjadi semacam laboratorium, tempat dimana semua orang yang terlibat mengumpulkan ide lalu coba ditantang kembali, tempat untuk melatih menyusun pertanyaan dengan baik alih-alih mengejar jawaban.

Dalam proses interaksi antara warga kampung Pulo Geulis dan teman-teman yang bernaung di platform program Melek Bogor dengan intensitas yang cukup tinggi di bulan-bulan terakhir ini menarik untuk dicermati bahwa beberapa karya yang dihasilkan adalah karya foto dan videografi. Tentu saja alasannya bukan semata karena terbatasnya kemampuan teknis teman-teman tapi juga baik sadar maupun tidak merupakan pilihan estetis dalam membentuk wajah dari permasalahan yang digeluti. Foto dan video adalah medium dimana seni itu diciptakan. Dalam memenuhi fungsinya sebagai alat dokumentasi kedua hal tersebut dapat menggambarkan dengan baik proses sosial dan interaksi yang terjadi di Pulo Geulis, sedangkan dalam menjadi karya seni masing-masing dapat berbicara melalui metafora visual.

Mendalami lika-liku keseharian di kampung kota dan hal-hal yang kait kelindan membutuhkan laku yang tidak biasa. Ada waktu dan energi yang tercurah habis, semangat yang turun naik, individu-individu yang menyerah di tengah jalan. Namun semua seakan dapat terbayar lunas ketika laku tersebut berkontribusi dalam membangun keakraban antara sesama warga, membuka kemungkinan untuk mewacanakan kembali pemaknaan terhadap lingkungan tinggal dan merangkai pengalaman sosial. Citra dan cerita yang tersaji saat ini dalam bentuk terbitan, film maupun pameran adalah juga sebuah bentuk produksi pengetahuan bersama warga. Seluruh proses kegiatan dan karya tersebut telah menjadi penanda perjalanan imajinasi seluruh individu yang terlibat didalamnya.

Bogor, 12 Maret 2017

 

PS: Tulisan adalah kata pengantar di photographic zine DalamxLuar diterbitkan oleh Melek Bogor & Kampoeng Bogor

Advertisements