Setelah Semua Keriaan Berakhir

Pagi hari sebelum acara dimulai saya mendapat pesan singkat dari Pak Bram seorang tokoh di Pulo Geulis yang meminta saya hadir di kampungnya sebelum pukul 12 siang. Saya yang sebenarnya ingin memulihkan diri sedikit saja dari kelelahan karena 2 hari terakhir harus menyiapkan dan menghadiri pembukaan pameran di Kota Tua Jakarta tampak harus menyerah dengan keinginannya. Alasan di balik mengapa saya diminta untuk datang sebelum pukul 12 adalah sesuatu yang tidak bisa saya sesali karena ternyata ibu-ibu di Pulo Geulis telah memasak makan siang untuk kami dengan mewahnya, meskipun sebelum berangkat saya sudah terlebih dahulu mengisi perut tapi saya tidak bisa menolak untuk kembali makan karena entah mengapa membayangkan sajian yang dimasak dengan ketulusan membuatnya tampak nikmat berkali-kali lipat.

Acara dimulai pukul 4 sore setelah melalui hiruk pikuk persiapan dan hujan yang turun lumayan deras. Ada begitu banyak kelompok anak-anak yang menari mungkin lima atau enam sebagai pembuka. Remaja-remaja yang saya kira suka bergaul di masjid mempertunjukkan kemampuanya untuk hadroh yang membuat saya tanpa sadar turut menyenandungkan sholawat dalam hati. Anak-anak muda nongkrong dari RT 1 memainkan musik akustik dengan lagu-lagu yang familiar di telinga karena begitu seringnya kita mendengar melalui pengamen-pengamen jalanan yang naik di angkot-angkot sialnya saya tidak memperhatikan ketika mereka menyebut judul lagu-lagu tersebut karena sibuk menyajikan bandrek dan bajigur untuk warga padahal sumpah mati saya penasaran. Titah Pak Hamzah sang ketua RW seminggu sebelumnya agar seluruh warga 5 RT mengirimkan perwakilan untuk unjuk kebolehan ternyata dituruti dengan ketaatan yang syahdu. Acara ditutup dengan menonton 5 film komunitas. Satu diantaranya adalah film yang kami buat dengan mengangkat Pulo Geulis dan kehidupannya sebagai tema sentral. Warga bersorak sorai bergembira dan tertawa-tertawa setiap kali ada tetangga atau wajah yang mereka kenal terlihat di dalam film. Saya menyaksikan warga yang menyaksikan film menjumput sedikit kebahagiaan diantara jepitan persoalan keseharian yang mungkin akan mereka rasakan kembali esok hari.

Malam hampir naik setengah ketika Kang Agus ketua pemuda setempat kembali muncul setelah kita selesai membereskan semua peralatan lalu menawari saya beberapa teguk “tuak lokal” katanya. Ada yang berbeda dengan Kang Agus setelah dikuasai oleh beberapa botol tuak, Ia menjadi begitu percaya diri membuka obrolan dengan saya, sesuatu yang sulit terjadi ketika Ia sepenuhnya sadar. “Kita jangan sampai putus kang, kita buat lagi acara yang lebih meriah Agustusan!” Ada binar harapan di matanya yang meminta tambah rasa tanggung jawab saya di hati. Setelah semua keriaan hari ini berakhir saya menatap bentangan kerja-kerja nyata didepan.

Pulo Geulis, April 2017

Advertisements

DalamxLuar

Sebuah Catatan Pengantar

Dalam-Luar adalah perspektif ruang pandang tentang bagaimana kita menghayati sesuatu, perspektif ini akan mempengaruhi estimasi pilihan konteks dan referensi, dalam derajat tertentu juga keberpihakan. Penentuan ruang pandang ini menjadi vital dalam merespon realitas di lapangan demi mendapatkan sebuah kedalaman. Menyoal kampung kota misalnya, begitu banyak hal yang tidak akan kita mengerti dalam arus kehidupan, jaringan pertukarannya begitu kita hanya memiliki sedikit waktu dan memandangnya dari luar. Kampung kota hanya akan dimengerti bentuk estetikanya ketika kita berani menyisakan cukup waktu untuk menyelami, keindahannya yang tidak preskriptif membuka ruang bagi interpretasi yang akhirnya akan membuat kita terpaksa terlibat dalam menjalin pemaknaan.

Dalam-Luar sendiri merupakan konsep yang lahir dari refleksi setahun lebih bergiat dibawah platform program Melek Bogor. Kegiatan yang awalnya memiliki keinginan untuk memetakan aset pusaka di Kota Bogor akhirnya bergulir dengan begitu dinamis. Hal ini seakan menjadi sesuatu yang tak terelakkan berhubung sejak hari pertama kegiatan Melek Bogor resmi dimulai pada Desember 2015, anak-anak muda usia awal dan tengah 20an-lah yang mendominasi. Mereka semua adalah warga kota yang terjaring dari proses pendekatan yang dilakukan oleh Kampoeng Bogor dan disatukan oleh ketertarikan untuk mencoba menemu kenali tempat dimana mereka tinggal. Dengan berbekal minat dan kemampuan yang berbeda-beda (yang kelak menjamin kekayaan khasanah dan perspektif) mereka turut membentuk platform program tersebut sekaligus menjadi motor penggeraknya.

Ketika teman-teman Melek Bogor memutuskan untuk mulai melakukan eksplorasi tentang kampung kota dan segala dinamikanya dengan mengambil kawasan Pulo Geulis sebagai studi kasus pun terjadi begitu saja seturut obrolan dan kemampuan mengamati yang berkembang dengan begitu organis. Melek Bogor akhirnya juga menjadi semacam laboratorium, tempat semua ide dikumpulkan lalu coba ditantang kembali, tempat dimana semua orang melatih menyusun pertanyaan dengan baik alih-alih mengejar jawaban.

Seluruh citra dan cerita yang tersaji saat ini dalam bentuk terbitan, film maupun pameran adalah sebuah bentuk penyusunan narasi dan produksi pengetahuan bersama warga. Dalam proses interaksi antara warga kampung Pulo Geulis dan teman-teman yang bernaung di platform program Melek Bogor dengan intensitas yang cukup tinggi di bulan-bulan terakhir ini menarik untuk dicermati bahwa beberapa karya produk akhir dari teman-teman adalah karya foto dan videografi. Tentu saja alasannya bukan semata karena terbatasnya kemampuan teknis teman-teman tapi juga baik sadar maupun tidak merupakan pilihan estetis dalam membentuk wajah dari permasalahan yang digeluti. Foto dan video adalah medium dimana seni itu diciptakan. Dalam memenuhi fungsinya sebagai alat dokumentasi kedua hal tersebut dapat menggambarkan dengan baik proses sosial dan interaksi yang terjadi di Pulo Geulis, sedangkan dalam prosesnya menjadi karya seni masing-masing dapat menyediakan apa yang kita sebut sebagai metafora visual.

Mengadopsi sudut pandang dari dalam ke luar untuk melihat keseharian kampung kota dan hal-hal yang kait kelindan membutuhkan laku yang tidak biasa. Ada waktu dan energi yang tercurah habis, semangat yang turun naik, individu-individu yang menyerah di tengah jalan. Namun semua seakan dapat terbayar lunas ketika ada kontribusi dalam membangun keakraban antara sesama warga, membuka kemungkinan untuk mewacanakan kembali pemaknaan terhadap lingkungan tinggal dan merangkai pengalaman sosial. Seluruh proses kegiatan dan karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi penanda perjalanan fisik namun juga perjalanan imajinasi seluruh individu yang terlibat didalamnya.

Bogor, 12 Maret 2017

Reza Adhiatma

PS: Tulisan diterbitkan dalam photographic zine Dalam-Luar (Melek Bogor & Kampoeng Bogor).
Web: melekbogor.id
Instagram: @melekbogor
YouTube Channel: Melek Bogor
Facebook Fan Page: Melek Bogor